DISKUSI TIM PERUMUS PENGUATAN GELS, BHD DAN KOMUNITAS RELAWAN EMERGENSI KESEHATAN INDONESIA (KREKI)

Tanggal 26 September 2018 di Unique Room, Harris Fx Jakarta 5th floor, para pakar di bidang kesehatan Indonesia berkumpul dalam upaya meningkatkan Sistem Penanggulang Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) di Indonesia dalam hal ini merumuskan GELS, BHD dan pembentukan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI). Undangan yang hadir dalam diskusi ini adalah perwakilan dari Kementrian Kesehatan Indonesia, IKKESINDO, PDEI, RSUD dr.Soetomo, SIAGA, AVODA dan stakeholder kesehatan lainnya yang memiliki fokus kegawatdaruratan.

Pertemuan diawali dengan sambutan dari Dr.dr.Supriyantoro Sp.P MARS selaku Ketua Umum IndoHCF yang dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kerjasama antara IndoHCF dengan Siaga dalam upaya meningkatkan SPGDT menggunakan teknologi terkini (Mobile Apps). Di era digital saat ini teknologi digital memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan integrasi informasi secara real time, yang perlu dimanfaatkan terlebih menyangkut nyawa manusia.

Penandatangan Perjanjian Kerjasama

A. Diskusi panel pertama yang di moderatori oleh Prof. Dr. dr. Idrus A. Paturusi, Sp.B, Sp.OT (K), dengan topik:

  • Leveling atau tingkat kompetensi dalam SPGDT oleh dr.Achmad Soebagio Tancarino, MARS
  • Standard pelatihan dan sertifikasi GELS oleh Prof DR.dr Eddy Raharjo, Sp.An, KIC.KAO, Dr.dr.April Poerwanto,Sp.An dan dr.Prananda Surya Airlangga,M.Kes, Sp.An KIC
  1. Hal yang perlu distandardkan antara lain: Standard modul, standard penyelenggara, standard pengajar, standard proses pelatihan, standard proses peserta, standard standard sertifikat, standard biaya
  2. Pemahaman yang salah mengenai Certificate Attendance yang dianggap sebagai kompetensi perlu adanya sosialisasi berkesinambungan
  3. Pengetahuan mengenai Disaster Management, Emergency perlu diperkenalkan dalam kurikulum dunia pendidikan sejak dini. Namun untuk mencapai hal tersebut memerlukan kerjasama semua pihak terkait dan memerlukan proses birokrasi yang panjang.

B. Diskusi panel kedua yang di moderatori oleh Dr.dr.Supriyantoro Sp.P MARS, dengan topik:

  • Standard pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) oleh dr.Moh.Adib Khumaidi,Sp.OT
  • Konsep Pembentukan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) oleh Dr.dr,Supriyantoro dan Ivan Muliadi

Pembentukan KREKI sangat diperlukan saat ini terlebih saat ini sudah menjadi era digital dan masih rendahnya rerspon time terhadap kejadian gawat darurat yang tentunya mempengaruhi peluang korban untuk selamat dan terhindar dari kecacatan. Respon masyarakat sekitar dalam waktu 5 menit pertama (Golden Time) sangat menentukan peluang dari korban. Mirisnya di Indonesia saat ini apabila terjadi kegawatdaruratan, respon masyarakat di sekitar adalah sibuk foto, bahkan cenderung untuk menghindar. Hal seperti ini perlu dipahami karena tidak semua orang mengerti apa yang harus dilakukan apabila menghadapi keadaan tersebut dan takut disalahkan apabila hasil tidak sesuai harapan.

KREKI hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan melakukan 2 kegiatan utama, yaitu:

  1. Memberikan pelatihan / peningkatan kompetensi kepada relawan sesuai dengan levelnya.
  2. Mempercepat respon time antara korban dengan masyarakat sekitar yang memiliki kemampuan untuk menolong dengan pemanfaatan teknologi terkini (mobile Apps).

Syarat menjadi anggota KREKI:

  1. Bersedia mengikuti pelatihan
  2. Memiliki smartphone yang support applikasi mobile apps
  3. Memiliki jiwa sosial yang tinggi

Untuk mendukung KREKI ini secara bersamaan perlu didukung oleh pemerintah dalam hal regulasi mengenai Good Samaritan serta stakehodler terkait yang memiliki fokus pada kegawatdaruratan dalam hal penyelenggaraan pelatihan, relawan serta pengembang aplikasi sehingga kolaborasi ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian akibat kegawatdaruratan.

Standardisasi Pelatihan BHD